
Kemarin saya membaca artikel menarik tentang kaitan "Tipologi Manusia Jawa dengan kasus pembunuhan yang dilakukan oleh seorang dukun pijat di Kartasura Sukarharjo, Yulianto," di Harian Jogja edisi Sabtu, 28 Agustus 2010 yang ditulis oleh Yuli D. Marjamah, seorang penulis buku asal Sukoharjo.
Tetapi, postingan saya kali ini, hanya mengambil hal yang menurut saya sangat menarik sebagai salah satu pengetahuan tentang keaneka ragaman kultur masyarakat Indonesia, yaitu tipologi (tipe/sifat/sikap) yang biasa/lazim dilakukan masyarkat Jawa dalam lingkup budaya timur dengan dominasi tradisi besar. Cara masyarakat Jawa menghadapi masalah dan srawung.
Dalam tulisannya, Yuli mengungkapkan istilah nga papat (empat nga), diambil dari huruf akhir dalam 20 rangkaian aksara Jawa yang masing-masing mempunyai kepanjangan dan menandung makna etos sikap. Konsep ini tak pernah berhenti didogmakan pada anak cucu agar terinternalisasi/menyatu dalam darah masyarakat Jawa.

Nga pertama, ngalah. Orang tua sering menasihati anaknya "Urip iku sing akeh ngalahe, wong ngalah kuwi gedhe pungkasane" (hidup itu harus banyak mengalah, orang mengalah akan mendapat hal besar di akhir/di kemudian hari). Merelakan sesuatu yang seharusnya menjadi hak milik kita, pasti akan berbalas dengan sesuatu yang lebih besar.
Sikap ini pula yang selalu dipesankan Syekh Siti Jenar kepada muridnya ketika menghadapi ancaman pembubaran oleh Dewan Wali (Wali Sanga/Sembilan). Waktu itu, keimanan Syekh Siti Jenar di hakimi dan dikhawatirkan menyesatkan umat. Dengan mengalah, Syekh Siti Jenar harus rela hidupnya berakhir dengan dihukum pancung atas nama menyelamatkan akidah umat.
Nga kedua, ngalih (menyingkir). Menghindari konflik demi tata krama menjadi pilihan yang dinilai bijak dalam kaidah Jawa. "Wis, ora sah rame, nyingkir wae yen ra cocok," demikian nasihat orang-orang tua yang artinya menyingkir saja jika tidak cocok. Jadi, menyingkir jauh lebih bijak ketimbang berhadapan dan bertarung, apalagi untuk masalah yang bukan prinsip. Sikap ini yang dilakukan Ken Dedes ketika harus berebut kasih Ken Arok dengan Ken Umang. Ken Dedes bukan hanya ngalah tapi juga sempat pergi atau "ngalih" dan berdiam diri. Dan ini membuahkan hasil, tumpahnya kasih sayang utuh Ken Arok kepada Ken Dedes.
Nga ketiga, ngamuk. Sikap ini yang terus dan terus dipesankan orang tua untuk tidak dilakukan jika tidak terdesak. Ngamuk dipandang tabu di tengah kerukunan di pranata masyarakat Jawa. Kalaupun marah, orang tua akan berpesan harus lewat tiga tahapan, sesuai yang diteladankan para raja Jawa. Ketiganya adalah "Ulat" (rona wajah), "gelagat" (gelagat/isyarat gerak), "ilat" (ucapan). Jadi, siapapun yang mengaku keturunan Jawa, diharapkan memulai kemarahan dengan menunjukkan ulat. Jika yang dituju sudah mengerti dan memperbaiki sikapnya, kemarahan harus dicukupkan. Tapi jika tak ada respons, baru naik ke tahap selanjutnya hingga ilat.
Nga keempat, ngobong (membakar). Tentunya pada sikap terakhir ini, kita mungkin harus tertunduk malu. Sejarah bangsa ini yang lekat dengan kultur Jawa, justru punya sejarah pembakaran luar biasa. Meski tiak berulang kali, tapi setiap kali terjadi, selalu mencengangkan dan mencekam.
Etos yang sering diawali dengan perusakan ini berlangsung hingga sekarang. Kalah dalam pemilu atau Pilkada, pendukung calon melakukan pembakaran, susah cari makan malah membakar, cemburu sedikit, melakukan pembakaran. Dalam skala besar, luluh lantaknya Solo pada 1998 dan 1999 menjadi cermin besar sikap keempat masyarakat Jawa, "ngobong". Kota yang notabene dikenal dengan kelembutannya ini lumpuh dalam sehari oleh api dan penjarahan.
Dalam kaidah Jawa, tidak ada penyebutan mengenai penghilangan nyawa (membunuh). Kalaupun ada literatur yang menyinggung soal nyawa, selalu dipaparkan dengan jantan. Jadi kalau ada yang terbunuh, pasti diawali dengan pertarungan, adu kesaktian. Bukan main belakang.
Tetapi, postingan saya kali ini, hanya mengambil hal yang menurut saya sangat menarik sebagai salah satu pengetahuan tentang keaneka ragaman kultur masyarakat Indonesia, yaitu tipologi (tipe/sifat/sikap) yang biasa/lazim dilakukan masyarkat Jawa dalam lingkup budaya timur dengan dominasi tradisi besar. Cara masyarakat Jawa menghadapi masalah dan srawung.
Dalam tulisannya, Yuli mengungkapkan istilah nga papat (empat nga), diambil dari huruf akhir dalam 20 rangkaian aksara Jawa yang masing-masing mempunyai kepanjangan dan menandung makna etos sikap. Konsep ini tak pernah berhenti didogmakan pada anak cucu agar terinternalisasi/menyatu dalam darah masyarakat Jawa.

Nga pertama, ngalah. Orang tua sering menasihati anaknya "Urip iku sing akeh ngalahe, wong ngalah kuwi gedhe pungkasane" (hidup itu harus banyak mengalah, orang mengalah akan mendapat hal besar di akhir/di kemudian hari). Merelakan sesuatu yang seharusnya menjadi hak milik kita, pasti akan berbalas dengan sesuatu yang lebih besar.
Sikap ini pula yang selalu dipesankan Syekh Siti Jenar kepada muridnya ketika menghadapi ancaman pembubaran oleh Dewan Wali (Wali Sanga/Sembilan). Waktu itu, keimanan Syekh Siti Jenar di hakimi dan dikhawatirkan menyesatkan umat. Dengan mengalah, Syekh Siti Jenar harus rela hidupnya berakhir dengan dihukum pancung atas nama menyelamatkan akidah umat.
Nga kedua, ngalih (menyingkir). Menghindari konflik demi tata krama menjadi pilihan yang dinilai bijak dalam kaidah Jawa. "Wis, ora sah rame, nyingkir wae yen ra cocok," demikian nasihat orang-orang tua yang artinya menyingkir saja jika tidak cocok. Jadi, menyingkir jauh lebih bijak ketimbang berhadapan dan bertarung, apalagi untuk masalah yang bukan prinsip. Sikap ini yang dilakukan Ken Dedes ketika harus berebut kasih Ken Arok dengan Ken Umang. Ken Dedes bukan hanya ngalah tapi juga sempat pergi atau "ngalih" dan berdiam diri. Dan ini membuahkan hasil, tumpahnya kasih sayang utuh Ken Arok kepada Ken Dedes.
Nga ketiga, ngamuk. Sikap ini yang terus dan terus dipesankan orang tua untuk tidak dilakukan jika tidak terdesak. Ngamuk dipandang tabu di tengah kerukunan di pranata masyarakat Jawa. Kalaupun marah, orang tua akan berpesan harus lewat tiga tahapan, sesuai yang diteladankan para raja Jawa. Ketiganya adalah "Ulat" (rona wajah), "gelagat" (gelagat/isyarat gerak), "ilat" (ucapan). Jadi, siapapun yang mengaku keturunan Jawa, diharapkan memulai kemarahan dengan menunjukkan ulat. Jika yang dituju sudah mengerti dan memperbaiki sikapnya, kemarahan harus dicukupkan. Tapi jika tak ada respons, baru naik ke tahap selanjutnya hingga ilat.
Nga keempat, ngobong (membakar). Tentunya pada sikap terakhir ini, kita mungkin harus tertunduk malu. Sejarah bangsa ini yang lekat dengan kultur Jawa, justru punya sejarah pembakaran luar biasa. Meski tiak berulang kali, tapi setiap kali terjadi, selalu mencengangkan dan mencekam.
Etos yang sering diawali dengan perusakan ini berlangsung hingga sekarang. Kalah dalam pemilu atau Pilkada, pendukung calon melakukan pembakaran, susah cari makan malah membakar, cemburu sedikit, melakukan pembakaran. Dalam skala besar, luluh lantaknya Solo pada 1998 dan 1999 menjadi cermin besar sikap keempat masyarakat Jawa, "ngobong". Kota yang notabene dikenal dengan kelembutannya ini lumpuh dalam sehari oleh api dan penjarahan.
Dalam kaidah Jawa, tidak ada penyebutan mengenai penghilangan nyawa (membunuh). Kalaupun ada literatur yang menyinggung soal nyawa, selalu dipaparkan dengan jantan. Jadi kalau ada yang terbunuh, pasti diawali dengan pertarungan, adu kesaktian. Bukan main belakang.



Kunjungan perdana sob, salam kenal.
BalasHapus^_^ naiz try bro ....keep good work
BalasHapusjadi tau neh tipologi orang Jawa
BalasHapusinfonya mantap sobat
BalasHapussukses ya
sob bukankah katanya masyarakat jawa keturunan dari timur tengah... pantesan ya sering terjadi kebakaran.
BalasHapusartikelnya cukup nih buat tugas ku. thnks ya.
Nadiar@ klo sepengetahuanku kawan, masyarakat Jawa bukan keturunan Timur Tengah, tp sejarah kebudayaan islamnya yg dibawa dari sana.. Tp klo ada info, bacaan/buku yg terlewat gak kebaca.. Wah, sory.. Brarti aku salah..(ketinggalan info) hehe...
BalasHapusKulonuwun,...
BalasHapusTerimakasih atas Share artikelnya
Matur nuwun
Lulus@ Sama2 kawan.. Mudah2an bisa bermanfaat..
BalasHapusThanks entri blognya. Ada inspirasi dikit, berhubung ada tugas untuk mengkaitkan karakteristik khas suatu daerah dengan terbentuknya kepribadian seseorang sebagai individual :)
BalasHapus